TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Analisa Kimia
Kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang
unsur-unsur senyawa. Kimia
Analitik adalah suatu cabang ilmu kimia yang menganalisa unsur-unsur
dalam senyawa. Analisa Kimia sendiri adalah suatu penyelidikan kimia yang
bertujuan untuk mencari susunan persenyawaan atau campuran persenyawaan
didalam suatu sampel. Analisa Kimia dibagi menjadi 2 :
1. Analisa Kualitatif : Analisa yang mengidentifikasi zat dalam suatu senyawa.
2. Analisa Kuantitatif : Analisa yang menyatakan banyak jumlah zat-zat dalam
sampel.
Analitik adalah suatu cabang ilmu kimia yang menganalisa unsur-unsur
dalam senyawa. Analisa Kimia sendiri adalah suatu penyelidikan kimia yang
bertujuan untuk mencari susunan persenyawaan atau campuran persenyawaan
didalam suatu sampel. Analisa Kimia dibagi menjadi 2 :
1. Analisa Kualitatif : Analisa yang mengidentifikasi zat dalam suatu senyawa.
2. Analisa Kuantitatif : Analisa yang menyatakan banyak jumlah zat-zat dalam
sampel.
2.2 Tahapan-Tahapan dalam Analisa Kimia
Dalam analisa kimia, ada
beberapa tahapan yang harus dilalui biar kita dapat
susunan senyawa tersebut. Berikut merupakan tahapan-tahapan analisa kimia :
susunan senyawa tersebut. Berikut merupakan tahapan-tahapan analisa kimia :
* Perencanaan analisis : Sebelum
melakukan analisis kuantitatif, maka perlu
memperhati-kan dua hal berikut ini .
- Informasi analisis apa yang diperlukan : Dalam hal ini
perlu diperhatikan tingkat ketepatan dan ketelitian hasil
analisis yang diperlukan dan tipe sampel yang akan
dianalisis.
- Metode analisis yang harus digunakan : Untuk
mendapatkan hasil analisis dengan tingkat ketepatan
dan ketelitian tertentu memerlukan metode analisis
tertentu. Selain itu untuk memilih metode analisis,
diperlukan bahan kimia dan peralatan tertentu.
memperhati-kan dua hal berikut ini .
- Informasi analisis apa yang diperlukan : Dalam hal ini
perlu diperhatikan tingkat ketepatan dan ketelitian hasil
analisis yang diperlukan dan tipe sampel yang akan
dianalisis.
- Metode analisis yang harus digunakan : Untuk
mendapatkan hasil analisis dengan tingkat ketepatan
dan ketelitian tertentu memerlukan metode analisis
tertentu. Selain itu untuk memilih metode analisis,
diperlukan bahan kimia dan peralatan tertentu.
* Pengambilan sampel (sampling) : Masalah
utama dalam sampling adalah
pengambilan sampel secara representatif.
Hal ini sering tidak tercapai karena keadaan
sampel secara keseluruhan tidak homogen.
pengambilan sampel secara representatif.
Hal ini sering tidak tercapai karena keadaan
sampel secara keseluruhan tidak homogen.
* Persiapan sampel untuk analisis : Tahap
ini meliputi pengeringan sampel,
pengukuran sampel dan pelarutan
sampel.
pengukuran sampel dan pelarutan
sampel.
-Pengeringan sampel : Tahap ini dilakukan
untuk sampel dalam wujud padat.Pengeringan sampel dilakukan
untuk menghilangkan kadar air yang ada dalam sampel.
Pengeringan sampel dilakukan menggunakan oven dengan
suhu 100 – 110oC sampai mencapai berat konstan.
untuk sampel dalam wujud padat.Pengeringan sampel dilakukan
untuk menghilangkan kadar air yang ada dalam sampel.
Pengeringan sampel dilakukan menggunakan oven dengan
suhu 100 – 110oC sampai mencapai berat konstan.
*
Penimbangan atau pengukuran volume sampel : Dalam analisis kuantitatif,
sampel
yang dianalisis harus diketahui
secara kuntitatif berat atau
volume sampel.
yang dianalisis harus diketahui
secara kuntitatif berat atau
volume sampel.
*
Pelarutan sampel : Dalam pelarutan sampel harus dipilih pelarut yang
dapat
melarutkan sampel secara sempurna. Pelarut yang biasa
digunakan dikelompokkan menjadi ; air, pelarut organik,
pelarut asam (asam encer, asam kuat, asam campuran)
serta peleburan.
melarutkan sampel secara sempurna. Pelarut yang biasa
digunakan dikelompokkan menjadi ; air, pelarut organik,
pelarut asam (asam encer, asam kuat, asam campuran)
serta peleburan.
* Pemisahan senyawa pengganggu : Kebanyakan
metode analisis kimia bersifat
selektif hanya untuk unsur atau senyawa
yang dianalisis. Ada beberapa metode
analisis yang tidak selektif, karena adanya
unsur atau senyawa pengganggu.Untuk itu
unsur atau senyawa pengganggu harus
dipisahkan dari sampel yang akan
dianalisis. Metode yang paling mudah
untuk pemisahan unsur/senyawa
pengganggu adalah pengendapan. Metode
yang lain adalah ekstraksi pelarut dan kromatografi.
selektif hanya untuk unsur atau senyawa
yang dianalisis. Ada beberapa metode
analisis yang tidak selektif, karena adanya
unsur atau senyawa pengganggu.Untuk itu
unsur atau senyawa pengganggu harus
dipisahkan dari sampel yang akan
dianalisis. Metode yang paling mudah
untuk pemisahan unsur/senyawa
pengganggu adalah pengendapan. Metode
yang lain adalah ekstraksi pelarut dan kromatografi.
* Pengukuran (analisis) unsur/senyawa
yang akan diketahui.
Metode analisis kuantitatif digunakan untuk menentukan kadar unsur/senyawa.
Metode analisis kuantitatif digunakan untuk menentukan kadar unsur/senyawa.
* Perhitungan, pelaporan dan
evaluasi hasil analisis.
Setelah melakukan analisis secara kuantitatif, maka perlu dilakukan
perhitungan untuk mendapatkan jumlah analit dalam sampel. Termasuk
memperhitungkan berapa berat sampel (untuk sampel padat) atau volume
sampel (untuk sampel cair) dan juga faktor pengenceran. Evaluasi
terhadap hasil analisis dilakukan terhadap tingkat ketepatan dan
ketelitiannya.
Setelah melakukan analisis secara kuantitatif, maka perlu dilakukan
perhitungan untuk mendapatkan jumlah analit dalam sampel. Termasuk
memperhitungkan berapa berat sampel (untuk sampel padat) atau volume
sampel (untuk sampel cair) dan juga faktor pengenceran. Evaluasi
terhadap hasil analisis dilakukan terhadap tingkat ketepatan dan
ketelitiannya.
2.2.1 Metode Dalam Analisis Kimia
Beberapa
metode analisis kimia yang biasa digunakan, baik yang konvensional maupun yang
menggunakan instrumen adalah sebagai berikut ;
-Gravimetri.
-Titrasi (volumetri) : meliputi Titrasi asam basa, Pengendapan, Pembentukan komplek,
Redoks.
-Ekstraksi
-Kromatogarfi
-Titrasi (volumetri) : meliputi Titrasi asam basa, Pengendapan, Pembentukan komplek,
Redoks.
-Ekstraksi
-Kromatogarfi
Kromatografi gas adalah cara
pemisahan kromatografi menggunakan gas sebagai fasa penggerak. Zat yang
dipisahkan dilewatkan dalam kolom yang diisi dengan fasa tidak bergerak yang
terdiri dari bahan terbagi halus yang cocok. Gas pembawa mengalir melalui kolom
dengan kecepatan tetap, memisahkan zat dalam gas atau cairan, atau dalam bentuk
padat pada keadaan normal. Cara ini digunakan untuk percobaan identifikasi dan
kemurnian, atau untuk penetapan kadar.
Kromatografi Gas ( GC) merupakan jenis kromatografi yang
digunakan dalam kimia organik untuk pemisahan dan analisis. GC dapat digunakan
untuk menguji kemurnian dari bahan tertentu, atau memisahkan berbagai komponen
dari campuran. Dalam beberapa situasi, GC dapat membantu dalam mengidentifikasi
sebuah kompleks.
Dalam kromatografi gas, fase yang bergerak (atau “mobile phase”) adalah sebuah operator gas, yang biasanya gas murni seperti helium atau yang tidak reactive seperti gas nitrogen. Stationary atau fasa diam merupakan tahap mikroskopis lapisan cair atau polimer yang mendukung gas murni, di dalam bagian darisistem pipa-pipa kaca atau logam yang disebut kolom. Instrumen yang digunakan untuk melakukan kromatografi gas disebut gas chromatograph (atau “aerograph”, ”gas pemisah”).
Kromatografi gas yang pada prinsipnya sama dengan kromatografi kolom (serta yang lainnya bentuk kromatografi, seperti HPLC, TLC), tapi memiliki beberapa perbedaan penting. Pertama, proses memisahkan compounds dalam campuran dilakukan antara stationary fase cair dan gas fase bergerak, sedangkan pada kromatografi kolom yang seimbang adalah tahap yang solid dan bergerak adalah fase cair. (Jadi, nama lengkap prosedur adalah “kromatografi gas-cair”, merujuk ke ponsel dan stationary tahapan,masing-masing.) Kedua, melalui kolom yang lolos tahap gas terletak di sebuah oven dimana temperatur gas yang dapat dikontrol, sedangkan kromatografi kolom (biasanya) tidak memiliki kontrol seperti suhu. Ketiga, konsentrasi yang majemuk dalam fase gas adalah hanya salah satu fungsi dari tekanan uap dari gas.
Kromatografi gas mirip dengan pecahan penyulingan, karena kedua proses memisahkan komponen dari campuran terutama berdasarkan titik didih (atau tekanan uap) perbedaan. Namun, pecahan penyulingan biasanya digunakan untuk memisahkan komponen campuran pada skala besar, sedangkan GC dapat digunakan pada skala yang lebih kecil (yakni microscale). Umumnya terdiri dari pencadang gas pembawa (injector), tempat penyuntikan zat, kolom terletak dalam thermostat, alat pendeteksi (detector) dan alat pencatat (rekorder) yang ditampilkan pada komputer. Susunan alat tersebut dapat dibuat seperti skema berikut:
Dalam kromatografi gas, fase yang bergerak (atau “mobile phase”) adalah sebuah operator gas, yang biasanya gas murni seperti helium atau yang tidak reactive seperti gas nitrogen. Stationary atau fasa diam merupakan tahap mikroskopis lapisan cair atau polimer yang mendukung gas murni, di dalam bagian darisistem pipa-pipa kaca atau logam yang disebut kolom. Instrumen yang digunakan untuk melakukan kromatografi gas disebut gas chromatograph (atau “aerograph”, ”gas pemisah”).
Kromatografi gas yang pada prinsipnya sama dengan kromatografi kolom (serta yang lainnya bentuk kromatografi, seperti HPLC, TLC), tapi memiliki beberapa perbedaan penting. Pertama, proses memisahkan compounds dalam campuran dilakukan antara stationary fase cair dan gas fase bergerak, sedangkan pada kromatografi kolom yang seimbang adalah tahap yang solid dan bergerak adalah fase cair. (Jadi, nama lengkap prosedur adalah “kromatografi gas-cair”, merujuk ke ponsel dan stationary tahapan,masing-masing.) Kedua, melalui kolom yang lolos tahap gas terletak di sebuah oven dimana temperatur gas yang dapat dikontrol, sedangkan kromatografi kolom (biasanya) tidak memiliki kontrol seperti suhu. Ketiga, konsentrasi yang majemuk dalam fase gas adalah hanya salah satu fungsi dari tekanan uap dari gas.
Kromatografi gas mirip dengan pecahan penyulingan, karena kedua proses memisahkan komponen dari campuran terutama berdasarkan titik didih (atau tekanan uap) perbedaan. Namun, pecahan penyulingan biasanya digunakan untuk memisahkan komponen campuran pada skala besar, sedangkan GC dapat digunakan pada skala yang lebih kecil (yakni microscale). Umumnya terdiri dari pencadang gas pembawa (injector), tempat penyuntikan zat, kolom terletak dalam thermostat, alat pendeteksi (detector) dan alat pencatat (rekorder) yang ditampilkan pada komputer. Susunan alat tersebut dapat dibuat seperti skema berikut:
1. Cara Pengoperasian Gas
Chromatography
Sesudah alat-alat disiapkan, kolom,
alat pendeteksi, suhu dan aliran gas pembawa diatur hingga kondisi seperti yang
tertera pada masing-masing monografi, suntikkan larutan zat sejumlah yang
tertera pada masing-masing monografi atau larutan pada tempat penyuntikan zat menggunakan alat
penyuntik mikro. Pemisahan komponen-komponen dideteksi dan digambarkan dalam
kromatografi. Letakkan kurva pada kromatogram dinyakatakn dalam waktu retensi (waktu
dari penyuntikan contoh sampai puncak kurva pada kromatogram) atau volume
retensi (waktu retensi x kecepatan alir gas pembawa) yang tetap untuk tiap zat
pada kondisi yang tetap. Dasar ini digunakan untuk identifikasi. Dari luas
daerah puncak urva atau tinggi puncak kurva, komponen zat dapat ditetapkan
secara kwantitatif.
2. Cara kalibrasi
Buat satu seri larutan . Setelah
itu, suntikan dengan volume sama tiap larutan ke dalam tempat penyuntikan zat.
Gambar garis kalibrasi dari kromatogram, dengan berat zat pada sumbu
horizontal, dan tinggi puncak kurva atau luas daerah puncak kurva pada sumbu
vertical. Buat larutan zat seperti yang tertera pada masing-masing monografi.
Dari kromatogram yang diperoleh dengan kondisi yang sama seperti cara
memperoleh garis kalibrasi, ukur luas daerah puncak kurva atau tinggi puncak
kurva. Hitung jumlah zat menggunakan garis kalibrasi. Dalam cara kerja ini,
semua harus dikerjakan dengan kondisi yang betul-betul tetap
-Elektroanalisis
kimia : meliputi Polarografi, Potensiometri, Konduktometri.
-Spektrofotometri : meliputi spektrofotometri sinar tampak (visibel), sinar UV, sinar
Infra merah (IR), serapan atom.
-Spektrofotometri : meliputi spektrofotometri sinar tampak (visibel), sinar UV, sinar
Infra merah (IR), serapan atom.
2.3
Pengertian Sampling
Sampling
merupakan pengambilan cuplikan atau contoh yang mewakili dari materi yang akan dianalisa. Untuk
keperluan analisis kuantitatif langkah awal yang penting adalah sampling
cuplikan harus repsrentatif, artinya dapat mewakili keseluruhan materi yang
akan dianalisis.
Sampling
dapat di bedakan menjadi 3, yaitu sampling padat, sampling cair dan sampling
gas.
2.3.1 Macam-macam Sampling Gas
Di tinjau dari tujuan dan
lokasinya, sampling atau pengambilan contoh udara
dapat dibedakan menjadi sampling ambien dan sampling emisi sumber.
dapat dibedakan menjadi sampling ambien dan sampling emisi sumber.
Sampling ambien bertujuan untuk :
• Memenuhi dan mematuhi baku mutu udara
embien,
• Menyediakan data untuk evaluasi
kualitas udara di industri,
• Observasi terhadap kecendrungan adanya
pencemaran,
• Menentukan prosedur pencegahan dan
penanganan pencemaran,
• Memantau sumber pencemar spesifik dari
proses industri.
Sampling emisi sumber bertujuan untuk :
• Mengetahui
besaran emisi pencemar untuk dibandingkan dengan
baku emisi,
baku emisi,
• Mengetahui tingkat emisi dari laju produksi /
operasi industri,
• Melakukan pemantauan kinerja alat pencegahan
pencemaran.
Konsentrasi zat pencemar diudara
ambien berkaitan erat dengan waktu dan tempat sehingga penentuan periode
danfrekuensi sampling harus memperhatikan jenis dan jumlah sampel sesuai dengan tujuan sampling.
Berdasarkan
periode dan frekuensi sampling, sampling gas dapat dibedakan menjadi :
•
Sampling kontinyu : Pengukuran secara konstan selama periode pengambilan
sehingga
dapat fluktuasi data selama pengukuran,
dapat fluktuasi data selama pengukuran,
•
Sampling itermitten : Pengukuran dengan mengambil beberapa titik pengukuran
dengan
interval waktu pengukuran yang konstan,
interval waktu pengukuran yang konstan,
•
Sampling sesaat (grab) : Pengukuran yang hanya dilakukan satu atau dua kali
saja, tidak
secara kontinyu dan periodik.
secara kontinyu dan periodik.
Teknik
sampling yang dikenal dalam aplikasi pengukuran dan analisis udara secara garis
besar dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu teknik tangkapan dan teknik
pemekatan.
•
Teknik tangkapan : Teknik sampling dengan menggunakan sejumlah volume contoh
udara
yang ditarik kedalam kontainer khusus, contoh udara kemudian di
analisis di laboratorium dengan instrumen analisis.
yang ditarik kedalam kontainer khusus, contoh udara kemudian di
analisis di laboratorium dengan instrumen analisis.
• Teknik pemekatan : Sampling dengan memekatkan
sejumlah volume contoh udara yang
ditarik kedalam media tertentu (cairan, reagen kimia, filter), untuk
dianalisis di laboratorium. Dengan adanya pemekatan maka
konsentrasi sampel dapat dinaikkan tanpa mengubah konsentrasi
relatifnya sehingga cocok untuk sampling udar ambien yang
konsentrasinya cukup rendah.
ditarik kedalam media tertentu (cairan, reagen kimia, filter), untuk
dianalisis di laboratorium. Dengan adanya pemekatan maka
konsentrasi sampel dapat dinaikkan tanpa mengubah konsentrasi
relatifnya sehingga cocok untuk sampling udar ambien yang
konsentrasinya cukup rendah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar